MARI KITA HIJAUKAN DENGAN HUTAN BUMI WIRALODRA DEMI MENCEGAH GLOBAL WARMING (PEMANASAN GLOBAL)
Tampilkan postingan dengan label Penghijauan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penghijauan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Januari 2010

Kontroversi Pungutan Hutan Tumpangsari di Indramayu

Hindari Premanisme Tumpangsari Perhutani Hapuskan Pungutan

Indramayu, Hutbun Indramayu – Ribuan penggarap lahan tumpangsari di bawah tegakan kayu putih di kawasan Perum Perhutani KPH Indramayu, bisa lega karena terhitung musim tanam (MT) 2010 nanti, semua jenis pungutan dihapuskan.
Ketegasan itu disampaikan Kadis Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Kabupaten Indramayu Drs H Yayan Mulyantoro, MM didampingi Kabid Produksi dan Pengusahaan Ir Tini Kartini,MM beberapa waktu yang lalu.
Pembebasan pungutan ini bukan saja pungutan yang disetorkan ke Perum Perhutani, namun meliputi pula pungutan yang diberlakukan sesuai Perda No.13/2002 yang disetorkan ke kas daerah. Alasan penghapusan dimaksud kata Yayan, untuk menghindari konflik di lapangan yang kerap muncul pada saat musim panen yang dibarengi dengan dilakukannya pemungutan oleh petugas pemungut.
Mengingat pada saat musim panen di lapangan selalu muncul konflik, sementara PAD yang ditargetkan tidak pernah terpenuhi, maka terhitung MT 2010 berbagai pungutan yang bersumber dari lahan tumpangsari di bawah tegakan kayu putih dihapus. Untuk pengganti PAD, ke depan, menurut Yayan, akan dibahas sharing antara Pemkab.Indramayu dengan Perum Perhutani setempat.
Dihapuskannya pungutan berdampak mengurangi premanisme akan berkurang, juga diharapkan tingkat kepedulian atau tanggung jawab para pernggarap terhadap lahan garapannya akan meningkat. Kalau para penggarap memiliki rasa peduli yang tinggi terhadap lahan garapannya, hasil panen kayu putih akan meningkat, tandas Yayan.
Sementara itu salah satu penggarap dari Petak X Sukaslamet Kecamatan Kroya M.Rois ketika dihubungi Pelita Rabu (23/12), menyambut gembira atas dihapusnya pungutan yang dibebankan kepadanya. Menurutnya, pungutan yang diberlakukan dan hal itu tertuang dalam surat perjanjian kerja sama (PKS) masih dalam batas kewajaran, namun yang sangat disayangkan pada saat musim panen tiba, petugas pemungut dalam melakukan tugasnya saling mendahului.
Melihat kenyataan ini, kata Rois, wajar kalau di lapangan banyak ditemukan kuitansi pasar, dan wajar pula kalau target PAD tidak pernah tercapai. Kami menyambut gembira dengan dihapusnya semua jenis pungutan yang dibebankan kepada para penggarap lahan tumpangsari di bawah tegakan kayu putih. Karena dengan dihapusnya pungutan tersebut, merupakan bukti kepedulian pemerintah terhadap rakyat kecil, tuturnya.
Rois menambahkan, sebagai bentuk rasa terimakasihnya, ia akan melakukan perawatan maksimal terhadap kayu puith yang ada di wilayah garapannya.
Diberitakan sebelumnya, meski sudah duduk satu meja antara Perum Perhutani, Dinas Hutbun, lembaga masyarakat daerah hutan (LMDH) dalam hal melakukan pungutan dan hal itu tertuang dalam PKS, belakangan kebersamaan itu hilang karena setiap akan melakukan pungutan mereka selalu berebut (Pelita, 13 Juni 2009, Red). (Pelita/ck-103)

Kasubsi PHBM Bantah Semua Pungutan Lahan Tumpangsari Dihapuskan

Laporan:

Menyikapi pemberitaan Hindari Premanisme Tumpangsari Perhutani Hapuskan Pungutan Kasubsi Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) pada Perum Perhutani KPH Indramayu Darto angkat bicara.
Kasubsi PHBM Bantah Semua Pungutan Lahan Tumpangsari Dihapuskan Indramayu, Pelita Menyikapi pemberitaan Hindari Premanisme Tumpangsari Perhutani Hapuskan Pungutan Kasubsi Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) pada Perum Perhutani KPH Indramayu Darto angkat bicara. Tidak benar kalau pungutan yang bersumber dari lahan tumpangsari di bawah tegakan kayu putih dihapuskan semua. Penghapusan pungutan itu hanya khusus diberlakukan pada lokasi penanaman tumpangsari yang dilaksanakan pada tahun 2009 saja, selebihnya tetap dikenai pungutan sesuai konsep perjanjian kerja sama (PKS), tandas Darto di ruangannya kemarin (29/12). Terkait hal dimaksud, pihaknya sudah memberitahukan kepada Dinas Hutbun Kab Indramayu. Pertimbangan penghapusan pungutan itu kata Darto untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kayu putih, dan alasan lainanya karena pada masa penanaman membutuhkan perawatan dan pemeliharaan serius, selanjutnya setelah usia tanaman kayu putih di atas dua tahun, pungutan tetap diberlakukan kembali. Belum ada rasa Memiliki Darto berkilah, kalau saja para penggarap tumpangsari memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemeliharaan kayu putih, seperti tidak ada perempelan daun, jalur bebas 1,5 meter terpenuhi, rumput bersih, pihaknya mungkin akan memper timbangkan untuk membebaskan pungutan. Bagaimana mungkin pihaknya akan mempertimbangkan bebas pungutan, kalau pada praktiknya jauh dari harapan, dimana mereka lebih mementingkan pada pemeliharaan tanaman padinya saja, belum lagi jalur bebas hanya tersisa setengahnya bahkan tidak ada sama sekali, perempelan masih tinggi dan rumput tumbuh subur. Kalau para penggarap sudah ada rasa memliliki terhadap tanaman kayu putih, mungkin saja semua pungutan dihapuskan, ungkapnya. Belum adanya rasa memiliki dimaksud, pihaknya terus melakukan pembinaan dari satu lokasi ke lokasi lainnya, namun demikian ia mengakui mengingat jumlah luas lahan yang tidak sebanding dengan jumlah petugas yang ada, maka hasilnya di satu sisi dilakukan pembinaan di sisi lain perilaku belum ada rasa memiliki masih tetap terjadi. Kalau semua pihak menyadari akan tupoksinya, insya Allah harapan Perum Perhutani KPH Indramayu untuk mengenalkan Kota Indramayu selain dikenal sebagai Kota Mangga juga Kota Kayu Putih akan terwujud, tegasnya. Ketika disinggung kalau pungutan masih diberlakukan, maka untuk menyikapi premanisme pada saat musim panen dan menghindari tumpang tindih pungutan, solusinya adalah sosialisasi. Sosialisasi terus dilakukan melalui Asisten Perhutani (Asper) setempat, urai Darto. Sementara itu menurut salah satu penggarap di petak X yang enggan dikorankan, hingga memasuki musim tanam (MT) 2009-2010 sejauh ini belum ada pihak yang melakukan sosialisasi di lokasinya. Untuk di tempat lain, ia mengakui tidak tahu. Sosialisasi idealnya dilakukan di lokasi penanamanan, karena kalau sosialisasi dilakukan di kantor desa, hasilnya tidak efektif, karena yang menghadiri sosialisasi tersebut belum tentu para penggarap tetapi masyarakat yang tidak ada kaitannya dengan lahan tumpangsari, sarannya. Ia menambahkan, dengan adanya sosialisasi tentunya semua pihak akan menjadi paham terkait tupoksinya, sehingga kalau semua pihak saling memahami, insya Allah tumpang tindih pungutan tidak akan terulang kembali. Diberitakan sebelumnya, Ribuan penggarap lahan tumpangsari di bawah tegakan kayu putih di kawasan Perum Perhutani KPH Indramayu, yang kerap menjadi obyek pungutan kini bernafas lega, pasalnya terhitung musim tanam (MT) 2010 semua jenis pungutan dihapuskan. Dikatakan Kadis Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Kab Indramayu Drs H Yayan Mulyantoro, MM didampingi Kabid Produksi dan Pengusahaan Ir Tini.

Senin, 30 November 2009

Konsep Indramayu Hijau Mulai Digalakkan Dengan Program GRIM (Gerakan Indramayu Menanam)

Abrasi Pantai Indramayu Kian Ganas

Drs. H. Yayan Mulyantoro MM, Kepala Dinas Perkebunan
dan Kehutanan Kabupaten Indramayu.
(Foto : Satim
)***


LINGKUNGAN

Keganasan Abrasi
Harus Ditangkal Dengan Mangrove

INDRAMAYU – Hamparan persemaian tanaman mangrove memenuhi sebagian kawasan pantai Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Jutaan tanaman mangrove itu rencananya untuk program penghijauan kawasan pantai yang sekarang tengah digerogoti abrasi. Diperkirakan sudah ratusan kilometer kawasan pantai Indramayu lenyap ditelan lautan. Daratan yang semula terasa luas, kini air laut terkesan tengah mengganas dan merangsek ingin segera memangsa daratan yang masih tersisa.

Gawat ! Begitulah suara-suara para pemerhati lingkungan Indramayu mengomentari ganasnya ombak laut Jawa yang “menyerang” daratan wilayah Kabupaten Indramayu. “Jika tidak segera bertindak untuk aksi penanaman mangrove di sepanjang pantai, luas daratan Kabupaten Indramayu kian menyusut. Gawat !,” kata Ir. Nurcahya, pemuda pelopor gerakan penghijauan pantai di Kota Mangga Indramayu, Kamis (26/11), di areal pembibitan mangrove yang ada di pesisir Tiris Indramayu, sekitar 7 kilometer dari jantung Ibukota Indramayu.

Kegalauan warga yang menghuni kawasan pesisir Indramayu memang telah lama dipikirkan oleh instansi terkait yang ada di Kabupaten Indramayu. Salah satunya seperti yang dilakukan pihak Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Indramayu dalam beberapa tahun terkahir ini.

“Kami sudah mengupayakan gerakan penghijauan di selruh kawasan, baik kawasan pantai maupun permukiman penduduk. Gerakan one man one tree (satu orang menanam satu pohon), telah dimulai sejak tahun 2009 ini. Gerakan tersebut untuk mendasari pemulihan kawasan kritis hutan, dan diharapkan kita berada di kawasan hijau yang menghirup udara sehat apabila program penghijauan ini didukung oleh semua pihak,” kata Drs. H. Yayan Mulyantoro MM, Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Indramayu, Rabu (25/11), di kantornya.

Yayan Mulyantoro bersama jajarannya tengah mendesain konsep “Indramayu Hijau” untuk tahun 2010 dan seterusnya. Keberhasilan konsepnya itu, telah diuji di Bali pada awal November 2009 lalu. Mantan Kepala Dinas Trantib yang hobi berkostum komboran hitam-hitam adat Dermayu, dan pencinta sepeda onthel kuno itu, dipercaya sebagai pembicara dalam sebuah acara nasional yang bertema gerakan penghijauan kawasan pantai di Pulau Dewata.

Menurut pengakuan Yayan Mulyantoro, ia merasa bersyukur karena dan tidak memalukan membawa daerahnya, mengingat program dan gerakan penghijauan kawasan pantai yang dilakukan Kabupaten Indramayu, ternyata jauh lebih maju dibanding beberapa daerah pantai lainnya. “Kami tak sia-sia sebagai pembicara tingkat nasional di Bali itu,” ungkapnya. (Satim)***

Source : www.satimterus.blogspot.com, Rabu, 25 November 2009


WARGA JATIMULYA

SIAP TANAM 1000 POHON MAHONI

Indramayu,18/11(ANTARA) - Ratusan warga desa Jatimulya kecamatan Terisi Indramayu,Jawa Barat, telah siap menanam 1000 bibit pohon mahoni ditanah milik Perhutani.

Sekertaris desa Jatimulya Air Saripuddin di Indramayu, Rabu, mengatakan,warganya telah siap untuk menanam 1000 bibit pohon mahoni,dalam rangka memperingati hari menanam.

Waktunya cocok karena mulai datang musim hujan dam harapan semua warga desanya lebih rimbun.

"Di desa jatimulya masih banyak lahan kosong milik Perhutani untuk ditanami pohon. Tujuan utama warga kami supaya di musim kemarau udara lebih segar,"katanya.

Aip menuturkan,penanaman akan terus dilakukan selama lahan milik perhutani masih ada yang kosong. Mungkin setiap menjelang musim hujan warga diimbau menanam pohon. "Mudah-mudahan rencana kami berjalan lancar selain itu ada pihak yang mendukung kegiatan tersebut," katanya.

Sementara itu kepala dinas kehutanan Indramayu H.Yayan Mulyantoro MM mengakui,kegiatan positif yang dilakukan warga desa Jatimulya kecamatan Terisi akan sepenuhnya didukung, berbagai bibit pohon diusahakan ditanaman pada musim hujan,supaya bibit tersebut tumbuh subur.

"Kesadaran warga untuk menanam merupakan bukti bahwa mereka mencintai lingkungannya,kami berterima kasih kepada mereka yang telah mempunyai inisiatif menanam,meskipun tahan milik perhutani,"katanya.

Dia menambahkan,kabupaten Indramayu telah banyak kehilangan hutan, selain dijadikan lahan pertanian juga pembalakan hutan secara tidak bertanggung jawab. Karena itu, perhatian masyarakat dan pemerintah harus saling mendukung.

"Kerjasama masyarakat dengan pemerintah memperbaiki alam sangat dibutuhkan,supaya kondisi alam tersebut segera pulih hutan kita kembali hijau,alam kita dapat dinik'mati oleh generasi selanjutnya,"jelasnya.

Ahmad seorang warga yang sedang menghitung bibit pohon mahoni mengatakan,penanaman pohon harus ditingkatkan untuk mengantisipasi pemanasan global.

"Kami semua warga berharap kegiatan menanam pohon tersebut dapat berlanjut,musim hujan tahun depan mudah-mudahan bisa ditanam 5000 pohon,supaya lingkungan kita lebih hijau,"tambahnya. (Enjang Solihin)***

(T.PSO-061/B/Y003/Y003) 18-11-2009 16:12:04

Source : ANTARA News Jawa Barat, Rabu, 18 Nov 2009 16:40:20

PELATIHAN PENGELOLAAN

HUTAN MANGROVE

2009

Pelatihan Pengelolaan Hutan Mangrove 2009 merupakan program tahunan yang dilakukan oleh Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wil. I yang pelaksanaannya lakukan setiap tahun. Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 2 - 6 November 2009, bertempat di Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wil. I. Peserta pelatihan berasal dari seluruh provinsi wilayah kerja BPHM Wil. I antara lain :

NO

Nama Peserta

Asal Peserta



1

AMRIN MA'RUF,S Hut.

Dinas Kehutanan dan Perkebunan kab. Cilacap

2

SUTADI RONO DIPURO, SP.

Dinas Kehutanan Kab. Batang

3

ERWANTO BUDI UTOMO,SP.

Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kab. Gresik

4

Ir. MOH. YULI SUSETIO MUKTI,MM

Dinas Pertanian Kota Surabaya

5

SISWADI,SP.

Dinas Kehutanan, Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kab. Banyuwangi

6

SUDIRMAN, SP.

Dinas Kehutanan, Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kab. Cirebon

7

H. INDUY YANASARI

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Subang

8

Drs. H. YAYAN MULYANTORO, MM

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Indramayu

9

ABUBAKAR H DINAR, SE

Dinas Kehutanan Kab. Bima

10

UDHI MUJIONO

Dinas Kehutanan, Perkebunan dan Pertanian Sumbawa Barat

11

I WAYAN SAMAWA

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Sumbawa Besar

12

SIDIQ CAHYONO, Amd

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Lombok Tengah

13

ALWI, S.Sos, MM.

Dinas Kehutanan Kab. Dompu

14

YOHANES DULI LETON

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Flores Timur

15

NYONGKI WELHELMUS RONY BETTE

Dinas Pertanian Perkebunan dan kehutanan Kab. Rote Ndao

16

KRISTIANUS HALE BEREK, S.Hut

Dinas Kehutanan Kab. Kupang

17

PAULUS PATI WENAMAYA, Amd

Dinas Kehutanan Kab. Sumba Timur

18

AGUSTINUS MOZA, SE

BAPPEDA Sumba Barat

19

AGUS SALIM, SE

BAPPEDA Provinsi Sulawesi Tengah

20

Ir.EVA RANTUNG, M.Si.

BAPPEDA Provinsi Sulawesi Tengah

Materi yang diajarkan pada pelatihan ini antara lain :

No

Materi

Pemateri

1

Kebijakan Pengelolaan Hutan Mangrove

Kepala Balai BPHM Wil. I Denpasar

2

Dinamika Kelompok

Oktavina Windrati

3

Ekologi Mangrove

Moch Budi Purnomo, S.Hut

4

Pengenalan dan Identifikasi Jenis Tanaman Mangrove

I Nyoman Sarwa

5

Teknik Pembuatan Persemaian Tanaman Mangrove

Hari Sudrajat

6

Teknik Rehabilitasi Mangrove

I Komang Tri Wijaya Kusuma, SP.

7

Pemanfaatan Sumberdaya Mangrove

Ni Nyoman Yeni Susanti, S. Hut

8

Teknik Silvofishery

Fatahur Rahim, SP.

Dana yang digunakan pada pelatihan ini berasal dari dana DIPA Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wil. I Denpasar.

Copyright © 2009
Mangrove Information Centre
Jl. By Pass Ngurah Rai Km. 21, Suwung Kauh, Denpasar, Bali
Telp. 0361-726969, Fax. 0361-710473
e-mail micjica@indosat.net.id



 

My Blog List

Site Info

free counters

Followers